Meritagehighlands.com – Di tengah situasi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah, harga energi di Belanda mengalami lonjakan yang signifikan. Banyak pemasok energi di negara tersebut terpaksa menyesuaikan atau bahkan menghentikan kontrak energi dengan harga tetap. Lonjakan ini terjadi setelah serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang menimbulkan kekhawatiran terkait pasokan energi dari kawasan tersebut.
Pada 5 Maret, kontrak berjangka gas alam di Title Transfer Facility (TTF) Belanda mengalami kenaikan 3,27 persen menjadi 50,37 euro per megawatt-jam, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 31,96 euro pada 27 Februari. Di stasiun pengisian bahan bakar, harga bensin Esso Euro95 dan solar Esso juga melambung, mencapai 2,35 euro dan 2,33 euro per liter, mendekati rekor tertinggi tahun lalu.
Peningkatan harga ini tidak hanya berdampak pada tagihan energi rumah tangga, tetapi juga berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi Belanda. Menurut laporan Rabobank, lonjakan biaya energi dapat mendorong inflasi mencapai rata-rata 2,7 persen pada 2026. Masyarakat akan merasakan dampaknya, dengan biaya energi bulanan rata-rata untuk rumah tangga naik sekitar 36 euro dalam waktu sepekan, dari 153 euro menjadi 189 euro.
Situasi ini menyerupai peristiwa awal perang Ukraina, di mana harga energi melambung dan kontrak tetap sulit dijangkau. Peningkatan biaya operasional dapat mengurangi daya saing sektor-sektor padat energi, termasuk industri logam dan pengolahan makanan. Oleh karena itu, ketidakpastian geopolitik menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi masa depan ekonomi Belanda dan Eropa secara keseluruhan.