Meritagehighlands.com – Perang Iran yang berkepanjangan telah mendorong negara-negara Teluk untuk menilai kembali hubungan pertahanan mereka dengan Amerika Serikat (AS). Negara-negara Arab di kawasan tersebut, yang selama ini menjadi mitra utama AS, kini mempertanyakan efektivitas aliansi tersebut dalam memberikan jaminan keamanan.
Hussein Ibish, seorang cendekiawan senior di Institut Negara-Negara Teluk Arab, menjelaskan bahwa konflik ini merupakan momen penting yang memaksa para pemimpin untuk meninjau kembali asumsi dasar kemitraan keamanan yang telah terjalin lama. Beberapa negara yang memiliki pangkalan AS menghadapi serangan, memunculkan kekhawatiran tentang sejauh mana aliansi ini benar-benar menawarkan perlindungan yang dijanjikan.
Ibish menyatakan bahwa situasi saat ini mencerminkan ketidakpuasan yang semakin meningkat terhadap efektivitas perlindungan dari AS. Sejak pernyataan garis merah terkait penggunaan senjata kimia di Suriah oleh Barack Obama, tingkat kepercayaan terhadap komitmen AS terus dipertanyakan. Dia mencatat beberapa insiden, seperti serangan pemboman Iran terhadap Arab Saudi pada tahun 2019 dan serangan Houthi ke Abu Dhabi, menunjukkan bahwa kehadiran militer AS tidak menjamin perlindungan yang diharapkan.
Lebih lanjut, Ibish menyinggung bahwa semua negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yang memiliki hubungan keamanan dengan Washington, telah mengalami serangan dari Iran tanpa adanya konsekuensi yang berarti. Hal ini mempertegas keraguan negara-negara Arab tentang kehandalan perjanjian keamanan dengan AS dan menimbulkan pertanyaan mengenai langkah selanjutnya dalam kebijakan pertahanan mereka.