Meritagehighlands.com – Risiko kesalahan perhitungan dalam konteks militer Iran dapat mengarah pada eskalasi konflik di kawasan, diungkapkan oleh mantan Jenderal Mark Kimmitt, yang pernah menjabat sebagai komandan CENTCOM Amerika Serikat. Kimmitt mengemukakan bahwa perbedaan struktural dalam komando antara militer AS yang terpusat dan Garda Revolusi Iran yang memberi keleluasaan kepada perwira tingkat rendah, meningkatkan potensi ketegangan.
Menurut Kimmitt, jika seorang komandan tingkat rendah dalam armada kapal cepat Iran mengambil inisiatif untuk menyerang kapal Amerika secara sepihak, hal tersebut bisa memicu kembali pertempuran. Dia menegaskan bahwa insiden tersebut tidak hanya akan menambah jumlah korban, tetapi juga berpotensi meningkatkan intensitas konflik secara drastis. Penilaian ini dikemukakan dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Dalam pandangan yang serupa, Mohammed Elmasry, profesor di Institut Studi Pascasarjana Doha, menilai bahwa langkah-langkah yang diambil oleh AS tampaknya bertujuan untuk mengintimidasi Iran agar memenuhi tuntutan Washington, termasuk pembongkaran fasilitas nuklir dan penghentian program rudal balistik. Elmasry menyatakan bahwa beberapa tuntutan tersebut dianggap melanggar garis merah oleh Iran, menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana Amerika bersedia berkompromi.
Elmasry juga menekankan pentingnya dialog langsung antara kedua pihak. Ia merujuk pada pertemuan sebelumnya di Islamabad yang berlangsung selama 20 jam, menunjukkan bahwa penyelesaian konflik seperti Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) memerlukan proses negosiasi yang panjang dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, dinamika militer antara AS dan Iran tetap menjadi perhatian global yang perlu dicermati dengan seksama.