ESDM Minta Shell, BP, dan Vivo Negosiasi Pembelian Solar dengan Pertamina

[original_title]

Meritagehighlands.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa mulai Maret 2026, pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta tidak lagi dapat memperpanjang kuota impor produk solar. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menyampaikan bahwa badan usaha seperti Shell, bp, dan Vivo diharapkan segera melakukan negosiasi dengan Pertamina untuk pembelian solar dari produksi dalam negeri.

Laode menjelaskan, surat imbauan telah disampaikan kepada seluruh badan usaha pada bulan Desember untuk memulai proses negosiasi. Hal ini dikarenakan pemerintah memutuskan untuk menghentikan tambahan kuota impor solar CN48, sehingga produksi dari Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan menjadi sumber utama untuk memenuhi permintaan nasional.

Lebih lanjut, kesepakatan ini akan memungkinkan SPBU swasta menyerap solar dari kilang yang baru selesai direvitalisasi, yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 360 ribu barel per hari. Kapasitas ini diharapkan dapat memenuhi 22–25 persen kebutuhan nasional. Dengan langkah ini, Kementerian ESDM berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, yang diperkirakan dapat menghemat biaya hingga Rp68 triliun per tahun dan memberikan kontribusi sebesar Rp514 triliun terhadap PDB nasional.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, juga menekankan pentingnya pengembangan kapasitas produksi dalam negeri, serta keinginan untuk memproduksi bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 di dalam negeri. Ia juga menjelaskan bahwa setiap kargo solar yang mungkin masuk ke Indonesia pada bulan Januari atau Februari 2026 adalah sisa dari tahun sebelumnya.

Baca Juga  10 Twibbon Menarik untuk Merayakan Hari Sumpah Pemuda 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *