Meritagehighlands.com – Krisis energi global kini memasuki fase yang mengkhawatirkan, terutama setelah dua kapal tanker Indonesia diizinkan untuk melintas di Selat Hormuz. Meskipun berita ini disambut positif, para ahli memperingatkan bahwa ketidakpastian dalam pasokan energi lebih berbahaya dibandingkan kelangkaan itu sendiri.
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketika keamanan jalur ini terancam, efek domino tidak hanya melibatkan hilangnya pasokan minyak, tetapi juga lonjakan harga yang tajam, biaya tanker yang meningkat, serta asuransi perang yang meroket. Hal ini menaikkan isu yang lebih mendalam: ketahanan energi Indonesia yang saat ini hanya memiliki cadangan beberapa minggu, bukan bulan, dalam konteks situasi geopolitik yang tidak stabil.
Pemerintah Indonesia menyatakan pasokan energi nasional dalam kondisi aman, namun ada pertanyaan krusial mengenai berapa lama ketahanan ini dapat bertahan dan dengan harga berapa. Pada saat bersamaan, publik mulai merasakan dampak di SPBU, di mana antrean panjang dan kehabisan stok menjadi tanda-tanda awal dari ketidakpastian. Kelangkaan sering kali muncul bukan karena stok yang habis, tetapi akibat hilangnya kepercayaan publik.
Dalam situasi ini, penting untuk tidak terjebak antara kepanikan atau perasaan aman berlebihan. Meskipun saat ini pasokan BBM terjaga, realitasnya adalah sistem energi global berada dalam ketidakstabilan. Diperlukan kesiapan yang lebih matang untuk menghadapi krisis yang mungkin datang, bukan hanya dalam perspektif pemerintah, tetapi juga masyarakat dan pelaku usaha. Hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh pemangku kepentingan di Indonesia.