Meritagehighlands.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan pada Rabu pagi, seiring dengan pergerakan negatif bursa di kawasan Asia dan global. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah yang mengkhawatirkan pasar. IHSG dibuka naik, namun pada pukul 09.50 WIB, jatuh sebesar 37,34 poin atau 0,57 persen menjadi 6.562,60. Indeks LQ45, yang mencakup 45 saham unggulan, juga turut turun 4,61 poin atau 0,70 persen, berada di level 649,80.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa jika IHSG mampu bertahan di level 6.635, ada peluang untuk menutup celah di level 6.705. Sebaliknya, jika tidak, IHSG diprediksi akan berkonsolidasi di kisaran 6.535 hingga 6.635. Penyebab utama penurunan ini terletak pada lonjakan harga minyak global yang meningkat hampir 5 persen akibat ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menunjukkan tren naik, menambah sentimen negatif yang melingkupi pasar.
Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang melambat, dengan jumlah lowongan pekerjaan pada Juli mencapai 7,27 juta, sedikit lebih rendah dari estimasi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September.
Sementara itu, inflasi domestik di Indonesia melonjak menjadi 3,19 persen pada Agustus 2026, dipicu oleh kenaikan harga makanan dan transportasi. Meskipun sektor manufaktur mengalami kontraksi, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 0,13 miliar dolar AS pada Juli, setelah dua bulan berturut-turut defisit. Situasi ini memberikan gambaran kompleks terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan, di mana pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027.