Meritagehighlands.com – Nilai tukar rupiah mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan di Jakarta pada Senin, dengan melemah 28 poin atau 0,17 persen, sehingga menjadi Rp16.847 per dolar AS. Sebelumnya, nilai tukar tersebut berada di angka Rp16.819 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi bahwa rupiah berpotensi menguat, seiring dengan dibukanya penyelidikan kriminal oleh pemerintahan AS terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Menurutnya, penyelidikan ini bisa menyebabkan penurunan indeks dolar AS, yang membuka peluang bagi penguatan rupiah.
Mengutip informasi dari Xinhua, Federal Reserve mengonfirmasi bahwa jaksa federal AS tengah menyelidiki Powell terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral yang menghabiskan miliaran dolar. Dalam pernyataan yang dikeluarkan, Powell menyatakan bahwa Departemen Kehakiman telah mengeluarkan surat panggilan yang mengancam dakwaan pidana terkait kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat Juni lalu, yang berkaitan dengan proyek tersebut.
Pourduh dalam situasi ini dianggap sebagai intervensi terhadap independensi The Fed, dan Lukman juga menekankan bahwa meskipun saat ini terjadi reaksi besar di pasar, kondisi ini bisa bersifat sementara, dengan potensi volatilitas nilai tukar yang tinggi.
Sementara itu, data ekonomi AS menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan. Pasar tenaga kerja menambah 50 ribu lapangan kerja meski di bawah harapan 60 ribu, dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,4 persen. Selain itu, data izin pembangunan perumahan tercatat naik menjadi 1,41 juta, dan tingkat kepercayaan konsumen mencapai 54, lebih tinggi dari estimasi 53,5.