Meritagehighlands.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa musim kemarau yang akan datang diprediksi berlangsung lebih lama dengan intensitas hujan yang lebih rendah. Hal ini dapat berdampak signifikan terhadap sektor pertanian, yang sangat bergantung pada ketersediaan air dari hujan dan irigasi. Prediksi ini disampaikan menjelang bulan April, titik saat banyak petani mempersiapkan lahan mereka.
Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, menekankan bahwa dampak perubahan iklim, baik kemarau panjang maupun hujan ekstrem, dapat mengganggu keberlangsungan usaha pertanian. Dalam penjelasannya pada Selasa (10/3), ia memperingatkan bahwa kemarau berkepanjangan berpotensi menyebabkan gagal tanam dan panen, yang pada gilirannya dapat menurunkan produksi pertanian secara keseluruhan.
Untuk menghadapi tantangan ini, Bayu mengusulkan perlunya adaptasi di kalangan petani. Ia menekankan pentingnya komunikasi intensif antara petani dan penyuluh pertanian sebagai strategi untuk mitigasi risiko. Menurutnya, kurangnya informasi mengenai kondisi cuaca yang tidak menentu membuat para petani rentan terhadap gagal panen. Oleh karena itu, pendampingan dari penyuluh pertanian dianggap vital untuk menanggulangi masalah ini.
Bayu juga menyoroti perlunya penyampaian informasi terkini dari BMKG mengenai kondisi cuaca yang ekstrem kepada masyarakat di tingkat desa. Dengan demikian, informasi yang diberikan akan lebih akurat dan relevan terhadap kondisi setempat.
Selain itu, peran peneliti dalam menciptakan inovasi melalui varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan adalah bagian dari solusi untuk memastikan produktivitas pertanian tetap tinggi meski dalam kondisi kemarau.