13 February 2026 – Fenomena gerhana matahari cincin kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah lembaga astronomi memprediksi peristiwa ini akan terjadi pada 2026. Gerhana matahari cincin merupakan kondisi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, namun tidak sepenuhnya menutupi piringan Matahari sehingga menyisakan efek lingkaran cahaya di tepinya.
Secara ilmiah, peristiwa ini terjadi karena jarak Bulan dari Bumi sedang berada di titik terjauh, sehingga ukuran tampaknya lebih kecil dibandingkan Matahari. Ketika posisi ketiganya sejajar, bayangan yang terbentuk tidak sepenuhnya gelap seperti pada gerhana total. Akibatnya, cincin cahaya atau yang kerap disebut “ring of fire” tampak jelas dari wilayah yang dilintasi jalur gerhana.
Di Indonesia, visibilitas gerhana bergantung pada lintasan bayangan Bulan. Beberapa daerah diperkirakan dapat menyaksikan fase cincin secara penuh, sementara wilayah lain hanya mengalami gerhana sebagian. Durasi pengamatan juga bervariasi, umumnya berlangsung beberapa menit pada fase puncak.
Masyarakat diimbau untuk tidak melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung khusus. Penggunaan kacamata gerhana bersertifikat atau metode proyeksi sederhana dianjurkan untuk mencegah kerusakan mata permanen. Edukasi terkait cara pengamatan yang aman menjadi bagian penting dalam setiap fenomena astronomi.
Gerhana ini juga dimanfaatkan sebagai momentum pembelajaran sains di sekolah dan komunitas astronomi. Selain memberikan pengalaman visual yang langka, peristiwa tersebut memperkaya pemahaman publik mengenai dinamika tata surya dan pergerakan benda langit.