Meritagehighlands.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan bahwa musim kemarau 2026 akan tiba lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia dan berlangsung dengan tingkat kekeringan yang lebih tinggi dari biasanya. Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus 2026, mencakup lebih dari 60% wilayah Tanah Air.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa salah satu penyebab pergeseran pola iklim global adalah fenomena La Niña yang lemah, yang berakhir pada Februari 2026. Sekarang, cuaca telah berpindah ke fase netral, dengan kemungkinan munculnya El Niño yang lemah hingga sedang pada semester kedua tahun ini. Faisal menambahkan bahwa saat ini indeks ENSO berada pada -0,28 dan diperkirakan akan bertahan hingga Juni 2026. Namun, ada risiko peningkatan El Niño dalam waktu dekat.
BMKG mencatat bahwa 114 Zona Musim (ZOM) akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, termasuk wilayah pesisir utara Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian Kalimantan. Selanjutnya, sebanyak 184 ZOM diharapkan menyusul pada Mei dan 163 ZOM pada Juni, dengan total 325 ZOM yang diperkirakan mengalami kemarau lebih awal dari normal.
Diperkirakan, musim kemarau ini akan lebih lama dengan 57,2% wilayah Indonesia mengalami durasi yang lebih panjang dari biasanya. BMKG telah mengingatkan bahwa situasi ini berpotensi menyebabkan risiko kekeringan, masalah produksi pangan, hingga kebakaran hutan. Oleh karena itu, petani diimbau untuk menyesuaikan jadwal tanam dan varietas yang digunakan. Pemerintah pun diharapkan memperkuat sistem pengelolaan air dan kesiapsiagaan menghadapi potensi penurunan kualitas udara untuk mencegah bencana lebih lanjut.