Meritagehighlands.com – Penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah menyebabkan defisit pasokan minyak global yang diperkirakan mencapai 700 juta barel hingga akhir April 2026. Situasi ini tidak hanya mengganggu arus distribusi minyak, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya krisis pasokan yang berkepanjangan di pasar global.
Menurut Alexander Novak, Wakil Perdana Menteri Rusia, dalam sebuah pernyataan, sejumlah besar minyak tidak berhasil mencapai pasar selama periode tersebut, dengan banyak kapal terperangkap di Selat Hormuz. Meskipun jalur lalu lintas dapat dibuka kembali, pemulihan pasokan minyak diprediksi akan memakan waktu beberapa bulan, sehingga berpotensi menambah dampak negatif pada ekonomi global.
Data dari perusahaan energi Kpler menunjukkan bahwa defisit pasokan terus meluas, seiring dengan gangguan distribusi energi global. Lonjakan harga energi semakin nyata, dengan harga minyak mentah Brent melampaui angka USD100 per barel dan harga bahan bakar avtur yang telah menembus USD200 per barel. Akibat situasi ini, banyak maskapai terpaksa melakukan pemangkasan rute penerbangan, sementara beberapa negara memilih untuk menerapkan pembatasan dalam konsumsi bahan bakar.
Konflik yang semakin tajam di wilayah tersebut menambah kompleksitas dalam dinamika pasokan energi dunia. Oleh karena itu, perhatian seharusnya lebih difokuskan pada dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari penutupan Selat Hormuz serta usaha-upaya untuk mengatasi kendala pasokan yang ada. Penanganan situasi ini akan menjadi tantangan bagi banyak pihak, mengingat ketergantungan global terhadap energi yang stabil dan terjangkau.