Meritagehighlands.com – Amerika Serikat (AS) berpotensi mengendalikan lebih dari setengah produksi minyak dunia jika perusahaan-perusahaan Amerika dapat kembali mengakses industri perminyakan Venezuela. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Presiden Donald Trump, yang menyoroti cadangan minyak Venezuela yang merupakan yang terbesar di dunia.
Dalam konteks sejarah, sektor perminyakan Venezuela dinasionalisasi pada tahun 2000-an di bawah kepresidenan Hugo Chavez. Langkah ini, menurut Trump, dianggap sebagai tindakan “tidak adil”. Ia mengklaim bahwa ini menjadi salah satu alasan di balik pengiriman pasukan untuk menculik penerus Chavez, Presiden Nicolas Maduro, di kediamannya di Caracas.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Jumat lalu, Trump mengungkapkan keyakinannya bahwa kerja sama antara AS dan Venezuela akan membawa peluang bagi perusahaan-perusahaan besar seperti ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips. Pertemuan tersebut berlangsung di Gedung Putih, di mana Trump menyampaikan harapannya agar perusahaan-perusahaan tersebut dapat membangun kembali infrastruktur energi Venezuela dan meraih produksi minyak yang lebih tinggi.
Trump menekankan bahwa jika kolaborasi ini terwujud, kombinasi cadangan minyak AS dan Venezuela dapat mencapai proporsi 55% dari total minyak dunia. Setelah pertemuan itu, Trump juga menyatakan rencana investasi oleh perusahaan-perusahaan AS yang diperkirakan mencapai USD100 miliar untuk pengembangan produksi minyak di Venezuela.
Pernyataan ini menunjukkan arah baru dalam kebijakan energi AS dan potensi penataan ulang industri perminyakan global, yang akan bergantung pada kerjasama internasional.
![[original_title]](https://meritagehighlands.com/wp-content/uploads/2026/01/trump-tegaskan-as-akan-kendalikan-55-minyak-dunia-byn.jpg)