Site icon meritagehighlands.com

Suara Horeg: Tantangan Pengawasan di Persimpangan Hiburan Rakyat

[original_title]

Meritagehighlands.com – Fenomena musik yang dikenal sebagai sound horeg menjadi sorotan publik di Jawa Timur dan menyebar ke berbagai daerah lainnya melalui media sosial. Sound horeg merujuk pada praktik menghibur yang melibatkan truk atau mobil pikap yang membawa peralatan audio besar untuk memutar musik dalam acara-acara tertentu. Heri Lentho, seorang pegiat seni di Jawa Timur, menjelaskan bahwa sound horeg lebih dari sekadar penggunaan teknologi pengeras suara; ia dianggap sebagai bagian dari budaya sosial masyarakat.

Suara yang bising dari sound system sering kali mengisi perayaan seperti hajatan, karnaval, dan bersih desa, menciptakan suasana yang meriah. Namun, popularitasnya yang meningkat belakangan ini turut menimbulkan tantangan. Fenomena ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membawa dampak ekonomi bagi berbagai kalangan, dari pemilik peralatan suara hingga pekerja kreatif.

Dalam beberapa tahun terakhir, sound horeg mulai memicu perdebatan dan protes. Kasus serius terjadi pada tahun 2025 ketika warga merobohkan gapura untuk memberi jalan bagi truk pengangkut sound horeg. Hal ini memicu kritik tajam karena kerusakan pada infrastruktur umum. Selain itu, insiden tragis terjadi di Jawa Timur pada Agustus 2026, di mana tiga orang dilaporkan meninggal dunia dalam kejadian terkait sound horeg. Salah satu korban, SN, terjatuh dan terkena gapura saat tidur di atas truk, sedangkan Bonari meninggal karena serangan jantung saat mengikuti karnaval. Insiden terakhir melibatkan Slamet Timbang yang tertimpa bangunan yang runtuh di tengah acara.

Akibat dari gelombang suara dan getaran keras dari sound horeg diduga menjadi penyebab dari kecelakaan ini. Dengan potensi kerugian dan tantangan yang dihadirkan, fenomena ini menjadi sorotan penting dalam masyarakat.

Exit mobile version