Meritagehighlands.com – Serangan 11 September 2001, yang sering disebut sebagai Black September, mengubah wajah sejarah dunia. Dalam peristiwa yang terjadi 25 tahun lalu, dua pesawat yaitu American Airlines Penerbangan 11 dan United Airlines Penerbangan 175 menabrak Menara Kembar World Trade Center di New York serta Pentagon di Washington. Tragedi ini tidak hanya menjadi catatan penting bagi Amerika Serikat, tetapi juga menjadi titik refleksi global, termasuk Indonesia.
Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), menjelaskan bahwa dampak dari peristiwa tersebut terasa hingga kini, khususnya dalam konteks politik global dan relasi antara agama dan negara. Serangan itu memicu berbagai kebijakan dan pendekatan baru dalam perang melawan terorisme. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, merasakan dampak langsung akibat pergeseran persepsi terhadap Islam, yang sering kali dipandang melalui kacamata terorisme.
Setelah kejadian tersebut, banyak Muslim di seluruh dunia menghadapi stigma, stereotip, dan diskriminasi. Ridwan mengingatkan bahwa peristiwa ini juga memberi kesempatan bagi kelompok ekstremis untuk mengklaim bahwa ada perang terhadap Islam. Dalam pengalaman Indonesia, peringatan akan ekstremisme kekerasan terlihat melalui berbagai tragedi, salah satunya adalah Bom Bali 2002, yang terjadi hanya setahun setelah 9/11.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ideologi radikal dapat berkembang di tengah masyarakat yang dikenal moderat. Dengan demikian, September Hitam bukan sekadar tragedi Amerika, tetapi juga pelajaran berharga bagi Indonesia dan kutub dunia lainnya dalam menghadapi tantangan yang lebih besar terkait kekerasan dan intoleransi atas nama agama. Sejarah memperingatkan kita untuk tetap waspada terhadap pola-pola yang dapat mengarah pada kekerasan ideologis.
![[original_title]](https://meritagehighlands.com/wp-content/uploads/2026/09/black-september-2001-dan-refleksi-indonesia-qxh.jpg)