Meritagehighlands.com – Kinerja ekspor Indonesia diharapkan tetap positif meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan kekhawatirannya tentang dampak defisit minyak terhadap surplus komoditas nonmigas. Dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa, Mendag Budi menekankan pentingnya menjaga rasio antara defisit migas dan surplus nonmigas agar pertumbuhan ekspor terus berlanjut.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia selama periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 167,03 miliar dolar AS, meningkat 4,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Khusus untuk ekspor nonmigas, nilainya naik 5,21 persen menjadi 160,01 miliar dolar AS. Pada bulan Juli 2026, ekspor Indonesia tercatat sebesar 26,22 miliar dolar AS, yang juga mengalami kenaikan 6,05 persen dibandingkan Juli 2025.
Sebagai salah satu langkah untuk memperluas pasar ekspor, Trade Expo Indonesia 2026 akan diadakan pada 14-18 Oktober mendatang. Budi Santoso mengungkapkan optimisme terhadap antusiasme dari calon pembeli yang telah mengonfirmasi kehadiran lebih dari 4.000 peserta.
Sementara itu, kondisi harga minyak mentah global mengalami kenaikan pada perdagangan tanggal 22 September, mencerminkan dinamika geopolitik terkini, termasuk potensi dialog antara Amerika Serikat dan Iran. Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November meningkat menjadi 100,57 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menunjukkan angka 95,8 dolar AS per barel untuk kontrak Oktober, dan 92,49 dolar AS untuk kontrak November.
Situasi ini menunjukkan tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pengelolaan sumber daya energi dan upaya peningkatan ekspor.
![[original_title]](https://meritagehighlands.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_1667.jpeg)