Meritagehighlands.com – Penurunan harga minyak dunia baru-baru ini dinilai bersifat sementara, dengan kemungkinan harga dapat kembali melonjak hingga mencapai 130 dolar AS per barel. Hal ini diungkapkan oleh pakar energi dari Universitas Padjajaran, Yayan Satyakti, dalam pernyataannya kepada wartawan di Jakarta. Menurutnya, penurunan ini disebabkan oleh langkah Amerika Serikat yang mengeluarkan pasokan minyak dalam jumlah besar.
Dalam pengamatan pasar, harga minyak mentah jenis Brent sempat mencapai 118 dolar AS per barel pada awal Maret, tertinggi sejak Juni 2022. Namun, harga minyak tersebut mengalami penurunan signifikan menjadi kisaran 80–85 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi setelah pertemuan para menteri energi dari kelompok G7 yang membahas potensi pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi untuk menanggulangi lonjakan harga.
Yayan juga menyoroti potensi berakhirnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, setelah pernyataan dari Presiden AS, Donald Trump, mengenai operasi militer yang telah “sangat lengkap.” Meskipun Iran menegaskan akan melanjutkan perlawanan hingga mendapatkan keamanan, Yayan memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu kembali kenaikan harga minyak.
Lebih lanjut, jika Amerika Serikat memutuskan untuk mengirim pasukan darat ke Iran, kerusakan pada infrastruktur dan rantai pasok akan memicu dampak signifikan, menurut Yayan. Ia mengandaikan, tindakan ini dapat mengulang pengalaman yang dialami di Irak dan Afghanistan, di mana AS berusaha mempertahankan kepentingan di wilayah tersebut.
Dalam analisisnya, Yayan mencatat bahwa kepentingan Amerika Serikat untuk memperbesar penguasaan pasar minyak Timur Tengah juga menjadi faktor penting. Hal ini bertujuan untuk menekan harga pada akhir tahun 2026, yang juga terlihat dari tindakan militer AS di Venezuela pada awal tahun ini.
![[original_title]](https://meritagehighlands.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260305_215641-2.jpg)