Site icon meritagehighlands.com

Arti Khususon Ila Ruhi dalam Tulisan Arab dan Penggunaannya

[original_title]

Meritagehighlands.com – Istilah “khususon ila ruhi” memiliki peran penting dalam tradisi keagamaan di Indonesia, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Istilah ini sering digunakan dalam acara tahlilan atau pengiriman doa kepada orang yang telah meninggal. Secara harfiah, kalimat ini berarti “terkhusus untuk ruh”, dan sering diucapkan pemimpin tahlil sebelum membacakan Surat Al-Fatihah untuk almarhum.

Penggunaan istilah ini berfungsi sebagai tawassul, yang artinya sebagai perantara doa yang ditujukan kepada arwah tertentu. Memahami makna dan tata cara penggunaan “khususon ila ruhi” sangat penting agar doa yang panjatkan dapat sampai ke tujuan sesuai dengan kaidah bahasa Arab.

Dalam praktiknya, kalimat ini digunakan dengan menyesuaikan jenis kelamin dan jumlah orang yang didoakan. Untuk satu laki-laki, diformulasikan menjadi “ila ruhi” diikuti nama dan nama ayahnya. Sementara untuk seorang perempuan, bentuknya menjadi “ila ruhiha”. Jika ditujukan kepada banyak orang, bentuknya berubah menjadi “ila arwahi”.

Proses doa dalam tahlil biasanya dimulai dengan mengirimkan doa kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian dilanjutkan kepada para wali, dan diakhiri dengan doa untuk almarhum atau almarhumah yang bersangkutan. Kegiatan ini menjadi bagian dari amal jariyah yang pahalanya dapat mengalir kepada pihak yang telah meninggal.

Keutamaan mengirimkan doa dengan menggunakan istilah ini tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga memiliki dasar agama yang kuat. Dalam Islam, doa dari anak yang saleh dan saudara seiman merupakan salah satu amal yang tidak terputus pahalanya meskipun si mayit telah meninggal dunia. Melalui “khususon ila ruhi”, para pelaku diingatkan untuk memiliki niat yang tulus dalam memberi doa khusus bagi ruh yang telah pergi.

Exit mobile version