Meritagehighlands.com – Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menekankan pentingnya kepastian pasokan gula kristal mentah untuk tahun 2027 guna memastikan kelangsungan produksi gula rafinasi dan memenuhi kebutuhan industri makanan, minuman, serta farmasi. Ketua Umum AGRI, Supriadi, menyatakan bahwa pemerintah telah menetapkan alokasi impor gula kristal mentah sebesar 3,06 juta ton untuk industri pemurnian gula pada tahun 2026.
Hingga akhir September 2026, tersedia sekitar 945.417 ton gula kristal mentah, yang setara dengan 898.146 ton gula kristal rafinasi. Meski 11 anggota industri pemurnian gula AGRI memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Supriadi mengingatkan bahwa sisa pasokan gula kristal mentah diperkirakan akan habis pada November-Desember 2026. Hal ini dapat mengakibatkan kekurangan bahan baku di industri pemurnian gula, berpotensi mengganggu pasokan gula kristal rafinasi bagi industri makanan dan minuman.
Bulan-bulan akhir tahun menjadi waktu krusial, terutama menjelang hari besar keagamaan, yang membuat pengaturan pasokan dari hulu sangat penting. Selain itu, Supriadi juga menyoroti perlunya percepatan penerbitan Rencana Kebutuhan Industri (RKI) dan Persetujuan Impor (PI) untuk pengadaan gula kristal mentah. Menurut Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2025, penetapan neraca komoditas harus diselesaikan sebelum akhir tahun sebelumnya, namun waktu yang diberikan saat ini dianggap tidak memadai oleh industri.
AGRI berharap, penetapan neraca komoditas dapat dilakukan paling lambat pada November 2026, untuk memberikan kepastian kepada industri dalam melakukan pemesanan bahan baku yang diperlukan. Dengan demikian, diharapkan kelangsungan produksi gula rafinasi dan kebutuhan industri makanan serta minuman dapat terjaga memasuki tahun 2027.
![[original_title]](https://meritagehighlands.com/wp-content/uploads/2026/10/pemerintah-buka-impor-gula-bahan-baku-industri-2708578.jpg)