29 January 2026 – Bursa Efek Indonesia mencatat gejolak tajam setelah bursa efek indonesia menghadapi tekanan pasar yang signifikan dalam beberapa sesi terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 7 persen, memicu penghentian sementara perdagangan di tengah kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal domestik berdasarkan evaluasi indeks global.
Sentimen negatif muncul setelah penyedia indeks global MSCI memberi sinyal risiko terhadap status pasar Indonesia, menyoroti kekurangan transparansi data dan struktur kepemilikan saham yang padat. Hal ini mendorong aksi jual besar-besaran pada saham unggulan dan memicu trading halt oleh bursa untuk mencegah penurunan lebih lanjut.
Dalam dua hari perdagangan berturut-turut, IHSG sempat turun hingga dua digit, tercatat sebagai salah satu periode koreksi paling tajam dalam beberapa tahun terakhir. Bursa menerapkan suspensi otomatis ketika indeks jatuh lebih dari ambang tertentu guna memberi waktu bagi pelaku pasar mencerna informasi.
Pihak otoritas pasar modal merespons dengan mempercepat koordinasi bersama regulator untuk meningkatkan transparansi dan memenuhi masukan dari MSCI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan mengusulkan kenaikan persentase free float saham minimal untuk meningkatkan likuiditas dan keterbukaan pasar.
Reaksi investor mulai terlihat beragam, dengan beberapa pelaku melihat koreksi ini sebagai momentum evaluasi risiko jangka panjang. Di sisi lain, tekanan jual tetap dominan pada sesi perdagangan terkini, seiring data perdagangan menunjukkan nilai transaksi tinggi meski indeks melemah. Neraca
Ke depan, Bursa Efek Indonesia dan otoritas pasar akan memantau lebih ketat dinamika pasar sembari berupaya meredam kepanikan investor dan mengembalikan stabilitas di pasar modal Indonesia.
